Agama Tradisional Jawa

engamati secara cermat asal-usul kepercayaan Jawa tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Kepercayaan Jawa yang banyak bersentuhan dengan mistik itu, dalam realitasnya banyak menyimpan misteri yang sangat kompleks. Kompleksitas kepercayaan komunitas kejawen tidak jarang menampakkan berbagai sekte dan tradisi kehidupan dalam masyarakat Jawa. Sekte-sekte dan tradisi kehidupan itu sebagai bentuk manifestasi dari religiusitas masing-masing wilayah kejawen.

Suku Aceh

Suku Aceh dalam bahasa Aceh disebut Ureuëng Acèh. Suku ini merupakan suku penduduk asli yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Aceh, Sumatra, Indonesia. Mayoritas suku Aceh beragama Islam. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat dan berkerabat dekat dengan bahasa Cham yang dipertuturkan di Vietnam dan Kamboja

Komunitas Suku Dayak Losarang

Suku Dayak Losarang adalah sebuah komunitas sosial yang eksistensinya sudah lebih kurang 40 tahun muncul sebagai fenomena sosial di Indramayu, dengan aturan dan gaya hidup yang berbeda dengan masyarakat pada umunya. Mulai dari cara berpakaian yang dwi-warna (Hitam Putih) dan bertelanjang dada serta penggunaan aksesoris gelang dan kalung yang terbuat dari akar pohon dan batu-batuan, Sampai dengan kepercayaan yang berbeda. Dan yang tak kalah penting adalah mereka terbentuk bukan dari kaitan dengan keturunan etnis Dayak yang ada di kalimantan tetapi berasal dari keturunan Jawa Dermayon.

Kampung Budaya Sindangbarang dan Kampung Adat Urug Bogor

Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman etnik atau suku bangsa dan budaya, serta kekayaan dibidang seni dan sastra. Semua sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa dan agama yang secara keseluruhan merupakan potensi nasional.

Suku Minangkabau

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 02 Juni 2016

Responding paper Suku Samin




A.    Asal-Usul Orang Samin
Masyarakat Samin adalah sebuah kelompok masyarakat yang terdapat di Blora, sebuah daerah yang berada di kawasan Provinsi Jawa Tengah. Masyarakat Samin memiliki kepercayaan, adat istiadat dan norma-norma tersendiri yang berbeda dengan masyarakat di Jawa pada umumnya. Mereka hidup berkelompok bersama di luar masyarakat umum, seakan-akan membentuk suatu komunitas.[1]
Ada dua pendapat menganai asal kata “Samin”. Pertama, nama Samin berasal dari arti kata Samin itu sendiri, yaitu kata yang ditasbihkan dari nama seorang tokoh bernama Samin Surosentiko yang berpengaruh dan membuat sebuah gerakan pemberontakan terhadap pemerintah.[2] Pendapat kedua, Samin berasal dari dari kata “sami-sami” yang berarti sama-sama. Kata ini merujuk pada konsep ajaran yang mengedepankan bahwa semua manusia itu sama, memiliki kedudukan yang sama, hak dan kewajiban yang sama karena semuanya beasal dari keturunan yang sama, yakni Nabi Adam.[3]
Ajaran Samin atau Saminisme disebarkan oleh seorang petani yang bernama Samin Surasentiko atau Surantiko Samin, disebut pula Surontiko Sami. Para pengikut yang mengkultuskannya mengatakan bahwa Surosentiko Samin adalah “Wong Tiban” atau orang yang tidak diketahui dari mana datangnya dan kemana perginya. Bahkan di antara pengikutnya ada yang beranggapan hingga kini Surosentiko Samin masih hidup.  Sumber lain menyebutkan Surosentiko Samin adalah cucu Kyai Keti dari Rejekwesi, Kabupaten Bojonegoro. Mereka masih mempunyai hubungan darah dengan pangeran Kusumaningayu dari Kerajaan Pajang. Lahir kira-kira tahun 1859 di Desa Plosokediren sekitar 30 meter dari Blora.

B.    Pandangan Hidup, Kepercayaan dan Ajaran Orang Samin
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, masalah agama dan kepercayaan terhadap Tuhan merupakan konsep dasar dalam kehidupan manusia. Masyarakat Samin, generasi tua khususnya, cenderung masih sangat kuat memegang prinsip-prinsip ajaran Samin, sehingga dalam pemahaman keagamaan mereka tidak menganut agama tertentu. Mereka memandang agama sebagai arti kepercayaan dan keyakinan semua sama, yang berarti semua agama itu baik. Pemikiran ini bersumber pada suatu pendirian bahwa manusia adalah sama saja, tidak ada perbedaan, karena sama-sama makhluk hidup yang mempunyai tujuan yang sama pula.  Masyarakat Samin mengikuti ajaran Samin Surosentiko yang mempunyai kepercayaan sendiri, khususnya bagi generasi tua. Agama orang Samin disebut agama Adam. Penganut Saminisme mempercayai akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan mengakui segala bentuk kebaikan agama karena agama mengajarkan kebaikan kepada setiap umatnya.[4]
a)     Agama
Agama menurut orang Samin berarti “gaman” (senjata), yaitu “gamane wong lanang”. Mereka sering mengatakan “aku iki wong, agamaku Adam, jenengku lanang. Adam itu pengucapku”, dari Adamlah asal hidup dan mati, dan segalanya bersumber pada Dia.[5]
b)     Manusia dan Kehidupan Alam Dunia
Menurut ajaran Samin, dunia ini hanya satu, yaitu urip (hidup). Segala sesuatu yang menampakkan diri tidak lebih dari pewujudan hidup. Manusia pertama adalah Adam yang diciptakan oleh Bapak Kuasa (langit) dan Ibu Pertiwi (bumi) kemudian dengan kekuatan yang ada pada Adam lahirlah Ibu Hawa (hawaning pikir). Dalam penyatuan tubuh keduanya lahirlah seorang puteri. Puteri tersebut dilamar oleh empat orang yang bernama lor, kidul, wetan, lan kulon. Dalam “sikep laki rabi” (perkawinan penyatuan antar lawan jenis) terciptalah umat manusia dan kemudian berkembang dengan bermacam sifat dan karakternya. Di antara semua makhluk yang berada di muka bumi ini yang tertinggi dan Yang Maha Kuasa adalah manusia “wong”. Yang disebut wong (manusia) oleh ajaran Samin itu adalah manusia yang baik, yang tidak pernah melakukan kejahatan, atau mereka yang menyebutnya “wong Jawa”. Wong Jawa di sini tidak diartikan secara harfiah suku Jawa, melainkan orang yang jujur, tidak jahat, tidak suka berdusta, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Agar seseorang menjadi manusia “wong”, maka orang tersebut harus melakukan praktek hidup dan tingkah laku yang dijalani dengan sepenuh hati. Seperti menjauhi perbuatan dusta (goroh), menghina (ngina sapa-pada), iri hati dan sebagainya. Orang yang sudah melaksanakan praktek hidup dan tingkah laku tersebut baru dianggap sempurna sebagai manusia “wong”. [6]

C.    Upacara Keagamaan Masyarakat Samin
·       Upacara Kelahiran
Kelahiran menurut masyarakat Samin adalah sesuatu hal yang dianggap biasa saja, dan mereka beranggapan bahwa seseorang yang baru lahir telah membawa jeneng (nama) sendiri-sendiri. Nama jeneng itu dibagi menjadi jeneng lanang (nama laki-laki) dan jeneng wedok (nama wanita). Anggapan orang Samin ketika bayi menangis dalam bayi itu berarti sang bayi sudah ada roh dan telah mendapatkan tempat ngenger (mengabdikan hidup). Sama seperti masyarakat Jawa, pada umumnya masyarakat Samin juga mengenal brokohan bancakanmbel-mbel yang dibagi-bagikan kepada tetangga dinamakan mbrokohiturunan. Kemudian setelah sang bayi berusia lima hari dibuatkan juga mbel-mbelsepasaran, lalu pada saat bayi berusia sembilan hari juga dibuatkan mbel-mbel selapan.[7]
·       Upacara Khitan atau Ditoreh
Masyarakat Samin sebenarnya tidak mengenal khitan atau sunat. Mereka mempunyai pandangan, mengapa anggota tubuh yang sudah ada sejak lahir harus dikurangi atau dihilangkan. Akan tetapi dalam kenyataan sehari-hari, seorang anak laki-laki yang sudah menginjak masa “Adam Birahi” atau seseorang yang sudah memasuki akil balig juga disunat sebagai laki-laki yang beragama Islam. Tidak ada upacara resmi dalam melaksanakan sunat atau ditoreh, hanya si anak dibawa ke bong supit, yang disebut dengan istilah calak. Masyarakat Samin mengatakan bahwa disunat atau ditoreh itu mengandung pengertian memperindah alat kelamin.[8]
·       Upacara Perkawinan
Pengertian perkawinan menurut ajaran Saminisme ialah bagian dari titik tolak ajaran masyarakat Samin dan merupakan ajaran yang sangat fundamental, karena perkawinan dari sepasang laki-laki dan perempuan inilah terjadinya dunia. Dalam perkawinan, ini harus didasari atas suka sama suka (pada demen) dan tidak ada unsur paksaan. Monogami adalah prinsip dari perkawinan mereka.[9]
·       Upacara Kematian
Masyarakat Samin mempunyai tata cara tersendiri  dalam hal kematian. Sama seperti halnya kelahiran, kematian juga merupakan peristiwa yang biasa. Menurut orang Samin, orang yang mati itu disebut sebagai salin sandhang (berganti pakaian). Ini maksudnya apabila roh lepas dari raga (jasmani, tubuh), jiwa mereka masih tetap hidup dengan memakai jasad yang baru. Manusia itu tidak pernah mati, yang mati dan rusak itu adalah jasadnya saja.[10]
D.    Etika dalam Masyarakat Samin
Masyarakat Samin hingga saat ini masih menjaga statusnya sebagai masyarakat yang masih mempertahankan ajaran “Saminisme”walau telah banyak pergeseran dan pengaruh dari masyarakat luar. Akan tetapi, masyarakat Samin akan selalu menjadi bagian dari kehidupan yang memiliki sifat-sifat yang dekat dengan keselarasan.[11]
Praktek pengalaman ajaran Samin yang diyakini kebenarannya pada gilirannya mempunyai implikasi yang sangat kuat pada pembentukkan watak dan karakter mereka. Beberapa watak yang menonjol dari mereka adalah:
a.      Memegang teguh janji dan menepatinya “kukoh janji”. Mereka pantang sekali mengingkari janji. Oleh karena itu, mereka jarang sekali berjanji  dan sangat berhati-hati jika mereka diperkirakan tidak mampu menepatinya.
b.     Jujur. Sikap seorang Samin sangat bersahaja, memiliki kejujuran yang mengagumkan dan pantang berdusta. Mereka tidak suka berbicara berbelit-belit dan selalu mengusahakan sifat “satunya kata dengan perbuatan”.
c.      Sabar dan tidak suka kekerasan. Orang Samin memiliki kesabaran yang cukup kuat, bahkan saking sabarnya mereka tampak dingin dan tak acuh. Mereka tidak suka kekerasan. Pertentangan dan pertengkaran selalu mereka hindari. Jika ada masalah diselesaikan dengan jalan musyawarah dengan pendekatan damai.
d.     Ikhlas atau “nerimo”. Mereka orang yang ikhlas dan menerima.
e.      Santun dalam menerima tamu. Dalam penghormatan kepada tamu, ada usaha untuk menjamu yang disajikan dengan senang hati. Tamu yang baik menurut mereka adalah yang bersikap kekeluargaan, tanpa menunggu dipersilahkan, baik ketika masuk maupun menikmati hidangan tamu yang demikian mereka anggap sebagai saudara (sedulur).[12]

E.    Interaksi Kepercayaan Orang Samin dengan Agama-Agama Lain
Interaksi kepercayaan orang Samin dengan masyarakat sekitar, khususnya yang ada di desa Klopoduwur dan Sambungrejo cukup baik dan akrab, terutama terhadap sesama masyarakat Samin dan juga terhadap agama lain  dan masyarakat lain,karena ajaran Samin menganggap semua agama yang ada dan yang dianut banyak orang adalah baik dan kepercayaan yang dianutnya juga baik. Bahkan dikatakan sertiap manusia derajatnya sama, tidak boleh menilai orang lain tetapi menilailah diri sendiri, mereka tidak mengganggu agama lain sehingga orang lain juga tidak mengganggunya dan ajaran mereka yang paling menonjol adalah tentng budi pekerti dan menciptakan suatu kerukunan.[13]
                                                                                                                                             



[1] Dra. Neng Darol Afia, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1989),h.29
[2] Titi Mungafati Dkk, Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, (Yogyakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004),h.20
[3] Nurudin dkk, Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger, (Yogyakarta: LKis,2003),h.50
[4] Ibid
[5] Neng Darol Afia, Op.cit,h.33
[6] Neng Darol, Op.cit, h.36
[7] Tashadi dkk, Op.cit, h.107
[8] Neng Darol Afia, Op.cit, h.37
[9] Ibid.
[10] Titi Mufangati, Op.cit, h.38
[11] Titi Mufangati, Op.cit, h.46
[12] Neng Darol Alfia, Op.cit, h.40
[13] Ibid

Responding paper suku nias



A.    Asal-Usul suku Nias
Suku bangsa ini mendiami pulau Nias yang secara geografis terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Bersama dengan beberapa pulau kecil di sekitarnya daerah in sekarang termasuk ke dalam  wilayah kabupaten Nias, provinsi Sumatera Utara. Penduduk asli menamakan diri mereka Ono Niha,yang artinya “anak manusia”, dan menyebut pulau mereka Tano Niha, artinya “tanah manusia”[1].
Bahasa Nias termasuk dalam rumpun bahasa Austranesia, bahasa tersebar sampai ke kepulauan batu di sebelah selatan Pulau Nias. Diantaranya terdapat empat dialek Nias uatara, Nias tengah (Gomo), Nias selatan (Teluk dalam) dan dialek batu, Orang Nias hidup berkelompok dalam kampung-kampung yang biasanya mereka dirikan diatas bukit dan dipagari dengan batu atau aur berduri. Kampong tersebut mereka sebut banua, dipimpin oleh seorang siulu (bangsawan) yang mereka sebut Tuhenori atau salawa (raja) [2]
Orang Nias mengenal beberapa pelapisan sosial yang cukup tajam. Misalnya dikenal kelas-kelas sosial seperti, Siulu (bangsawan), ere (pendeta), Ono mbanua (anak negeri/orang biasa), dan golongan sawuyu (budak). Golongan siulu adalah golongan yang memerintah dalam lapisan sosial suku Nias[3].
            Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.[4]
Namun menurut Penelitian Arkeologi yang telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 Penelitian ini menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias padamasapaleolitik, bahkanadaindikasisejak30.000 tahunlampau.kata Prof. Harry Truman SimanjuntakdariPuslitbangArkeologiNasionaldan LIPI Jakarta. PadamasaituhanyabudayaHoabinh, Vietnam yang samadenganbudaya yang ada di PulauNias, sehingga  diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kin imenjad inegara yang disebutVietnam[5].
Penelitian genetika terbaru menemukan, masyarakat Nias, Sumatera Utara, berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenekmoyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melaluijalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu Penelitian ini juga menemukan, dalam genetika orang Nias saat ini tidak adalagi jejak dar imasyarakat Niaskuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Penelitian arkeologi terhadap alat-alat batu yang ditemukan menunjukkan, manusia yang menempati goater sebut berasal dari masa 12.000 tahunlalu.Menanggapi temuan itu, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sony Wibisonom engatakan, teori tentang asa lusulma syarakat Nusantara dari Taiwan sebenarnya sudah lama disampaikan, misalnya oleh Peter Bellwood (2000).Teori Bellwood didasarkan pada kesamaan bentuk gerabah.
B.    Ajaran-Ajaran Suku Nias
1.     Keyakinan Terhadap Dewa
Suku yang pernah mencapai tingka tperkembangan megalitik yang mengagumkan ini mempunyai agama asli yang disebut Maloheadu( penyembahroh) yang didalamnya dikena lbanyakdewa, diantaranya yang paling tinggi adalah lowalangi.seperti padahasil karya buda ya mereka, merek a menyembah roh-roh dengan mendirikan patung-patung dari batu dan kayu, tugu-tugu dan arcaarwahsertaomohada yaitu rumah adat yang didirikan diatas batu-batu besar pipih dan dengan tiang-tiang kayu besar, dan penuh jugadengan ukir-ukiran.[6]
Lowalangi dipandang sebaga idewa yang terpenting karena ada banyak do’a, mantra, sumpah dan kutukan yang disandarkan kepada Lowalangi dan kekuasaannya.Lowalang imenentukan hidup dan mati manusia, memberikan berkat dan kutukan, kekayaan serta kemiskinnan.Dialah yang dipecaya selalu ada dimana-mana dan mengetahui segala sesuatu, serta menghukum yang jahat. Sedangkan Lature dano d ipercaya menyebabkan adany apenyakit, kematian, gempa bumi, angin rebut, dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu tidak berarti banyak dalam kehidupan religious sukunias.
2.     Keyakinan tentang jiwa
Dalam suku Nias terdapat beberapa ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk mengungkapkan pengeretian jiwa yaitu, noso dan bekhu. Noso dipandang datang dari dewa Lowalangi atau dari salah satu bentuk penampakan dewa itu.[7] Sesudah yang memiliki noso itu mati maka noso akan kembali kepada Lowalangi. Pada hakikatnya noso dianggap atau sering di uraikan sebagai nafas, hidup, dan atau asas yang dialaminya. Sedangkan bekhu tampil jika orang yang sudah mati atau mungkin bisa kita sebut arwah/roh. Bekhu pergi ke  alam orang yang sudah mati. Dalam praktiknya, bekhu sama dengan bentuk eksistensi yang baru dari orang yang mati.
3.     Keyakinan Tentang Kekuatan Ghaib
Suku Nias mengenal adanya eheha. Eheha adalah kekuatan yang berjiwa dan menjiwai, yang dapat diwariskan dari ayah kepada keturunannya atau kepada anak laki-lakinya[8]. Sebenarnya eheha ini hanya berarti bagi para pemimpin laki-laki ataupun pada orang-orang yang penting dan tidak beerlaku ataupun tidak penah terungkap adanya eheha.
4.     Mite Penjadian
Mite merupakan suatu cerita yang mempunyai latarbelakang sejarah yang dipercayai masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi dan dianggap suci serta mengandung hal-hal gaib. Bagian pertama mite ini, memiliki sumber, atau meyebutkan bahwa pada awal mula yang adalah kekacauan (khaos) dari kekacauan ini timbulah tokoh dewa yang pertama, selanjutnya mite-mite itu berbeda satu sama lain.
C.    Upacara-Upacara Suku Nias
1.     Upacara Pesta Jasa atau Pesta Kedukaan (owasa)
Tujuan pesta religius ini ialah untuk memperoleh kehormatan, nama, kedukaan, dan gelar. Jika perayaan ini diselenggarakan oleh bangsawan, pada kesempatannya mereka mengadakan korban manusia dan juga mendirikan suatu momen megalitikum.
2.     Upacara Boro Nadu
Upacara boro nadu ini adalah puncak hidup kultus suku Nias, sebab secara langsung pesta ini dihubungkan dengan penciptaan dan terjadinya suku Nias. Biasanya upacara ini diselenggarakan ditempat-tempat yang dipandang sebagai tempat nenek moyang dahulu turun dari alam atas dan sekaligus dianggap sebagai kediaman pertama nenek moyang masing-masing kelompok. Kata boro sendiri berarti suku, dasar, atau sebab. Jadi, kata  boro nadu berarti permulaan perbbuatan suci, atau asal dan sumber tertua penyucian..
Jalannya upacara boro nadu adalah sebagai berikut berbondong bondong orang mengunjungi upacara dengan pakaian yang indah akan tetapi, pada saat ini tidak di bagikan makanan. Segala permusuhan pada saatini harus dihentikan. Sebelum upacra di mulai, orang membuat patung manusia dan harimau yang pada hari upacara itu di arak ke tempat upacara dengan nyanyian dan tarian.
D.    Interaksi Kepercayaan Orang Nias Dengan Agama-Agama Lain
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi.[9] Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.



[1] Dr. Zulyani Hidaya, Ensiklopedia suku bangsa di Indonesia, h. 287
[2]Ibid, h. 288
[3]Ibid, h. 291
[4] Harun Hadiwijono. Religi Suku Murb Di Indonesia, PT Bpk Gunung Mulia: jakarta, 2007, h. 87

[6]Ibid, h. 88
[7]Ibid, h. 89
[8]Imran manan, 1989, Antropologi Pendidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, h.3
[9] Ibid, h. 91
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net